Krisis Resiliensi Generasi dan Urgensi Pembenahan Sistem Pendidikan – Pakar Strategi Pembelajaran Pendidikan Islam, Prof Susanto, mengingatkan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi krisis ketangguhan mental (resiliensi) generasi muda yang semakin serius. Data global menunjukkan satu dari tujuh remaja usia 10-19 tahun mengalami masalah kesehatan mental (WHO, 2024). Di Indonesia, sekitar 15,5 juta remaja atau 34,9 persen menghadapi persoalan serupa (Kemenkes, 2024).

Krisis Resiliensi: Fenomena Global yang Mengkhawatirkan

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Singapura, 16,2 persen remaja mengalami depresi dan kecemasan. Di Amerika Serikat, angka gangguan kecemasan mencapai 31,9 persen. Inggris bahkan mencatat peningkatan signifikan dari 18,9 persen pada 2014 menjadi 25,8 persen pada 2024 (National Health Service, 2024).

Prof Susanto menjelaskan bahwa kondisi ini sering direpresentasikan melalui istilah strawberry generation—generasi yang tampak menarik dan adaptif terhadap teknologi, tetapi memiliki kerentanan slot demo psikologis yang tinggi. Namun, ia lebih memilih istilah strawberry mentality, karena masalah ini tidak terbatas pada kelompok usia tertentu, melainkan pola mental yang ditandai kerapuhan, rendahnya daya tahan, dan kecenderungan menghindari tantangan.

Akar Masalah dalam Sistem Pendidikan

Sistem pendidikan saat ini belum sepenuhnya mengintegrasikan dimensi ketangguhan mental sebagai bagian esensial dari proses pembelajaran. Pendidikan masih didominasi paradigma berorientasi hasil (outcome-oriented), dengan penekanan berlebih pada capaian kognitif yang terukur secara kuantitatif.

Proses belajar cenderung direduksi menjadi aktivitas reproduksi pengetahuan, bukan sebagai ruang pembentukan kapasitas adaptif, reflektif, dan resiliensial. Ketangguhan mental belum diposisikan sebagai kompetensi utama yang dirancang secara sadar dalam kurikulum, strategi pembelajaran, maupun sistem evaluasi.

Faktor Eksternal yang Memperparah

Kondisi ini diperparah oleh budaya instan yang melemahkan kemampuan individu dalam menghargai proses dan menunda kepuasan (delayed gratification). Ketergantungan pada hasil yang serba cepat mengikis ketekunan dan daya tahan dalam menghadapi kesulitan.

Pola pengasuhan yang terlalu protektif turut membatasi kemandirian dan keberanian anak mengambil risiko. Sementara itu, sistem evaluasi pendidikan yang berfokus pada nilai akhir semakin mengabaikan pentingnya usaha, proses, dan ketekunan sebagai indikator perkembangan belajar.

Implikasi Luas Krisis Resiliensi

Dalam perspektif life course theory, Glen H. Elder (1998) menegaskan bahwa pengalaman pada masa anak dan remaja memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kualitas individu di masa dewasa. Kegagalan sistem pendidikan dalam menanamkan ketangguhan mental sejak dini berdampak sistemik terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Pada level individu, muncul peningkatan kerentanan terhadap stres, kecemasan, dan gangguan kesehatan mental. Pada level institusional, tercermin dalam meningkatnya risiko burnout, rendahnya keterlibatan (disengagement), serta melemahnya kapasitas kepemimpinan adaptif. Pada level makro, krisis ini berkontribusi terhadap menurunnya kualitas SDM, melemahnya kohesi sosial, serta tergerusnya daya saing bangsa.

Arah Pembenahan Sistem Pendidikan

Pembenahan sistem pendidikan harus dimulai dari rekonstruksi paradigma pembelajaran secara fundamental. Pendidikan tidak lagi cukup dipahami sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi harus direorientasikan sebagai proses pembentukan kapasitas adaptif, reflektif, serta ketangguhan mental (resilience building capacity).

Pertama, desirable difficulties. Desain pembelajaran yang secara terukur menghadirkan kesulitan optimal untuk memperkuat daya tahan kognitif, ketekunan, dan fleksibilitas berpikir.

Kedua, challenge-based learning. Menempatkan peserta didik dalam konteks masalah nyata sehingga mendorong kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan adaptif.

Ketiga, productive failure. Pendekatan yang secara pedagogis memaknai kegagalan sebagai bagian inheren dari proses konstruksi pengetahuan, bukan sebagai akhir dari pembelajaran.

Reformasi Sistem Evaluasi dan Ekosistem Pendidikan

Sistem evaluasi pendidikan perlu direorientasikan dari yang semata-mata berfokus pada hasil akhir menuju sistem yang mengapresiasi proses, usaha, ketekunan, serta perkembangan individu secara berkelanjutan (process-based assessment).

Pada saat yang sama, ekosistem pendidikan yang mencakup guru, orang tua, dan pembuat kebijakan harus dibangun dalam satu kesadaran kolektif untuk menciptakan lingkungan belajar judi bola yang memungkinkan peserta didik berinteraksi secara sehat dengan kesulitan, kegagalan, dan tantangan sebagai bagian dari proses tumbuh kembangnya.

Antifragile Mindset: Tujuan Akhir Pendidikan

Apabila pembenahan ini dilakukan secara konsisten dan sistemik, pendidikan tidak hanya akan menghasilkan individu yang unggul secara intelektual, tetapi juga tangguh secara psikologis dan matang secara emosional. Lebih jauh, akan lahir generasi dengan antifragile mindset—kapasitas untuk tidak sekadar bertahan dalam tekanan, tetapi justru bertumbuh dan menguat melalui tekanan tersebut.

Prof Susanto menegaskan bahwa jika gagal membangun resiliensi, kita akan mewariskan generasi yang rapuh. Namun jika berhasil, kita akan melahirkan generasi yang mampu menghadapi zaman dengan keberanian, kebijaksanaan, dan keteguhan. “Generasi yang hebat tidak lahir dari air yang tenang, melainkan lahir dari terjangan ombak dan badai,” pungkasnya.